Rabu, 02 Februari 2011

Between Human Brain and Facebook

Setelah internet berkembang dan diadopsi oleh banyak masyarakat dunia, manusia mengangkat hubungan dengan sesama ke level digital. Jejaring sosial tumbuh menjadi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial manusia. Pembahasan berikut adalah mengenai jejaring sosial dan hubungannya dengan otak; psikis. Adapun materi yang terkandung di dalamnya merupakan ulasan dari artikel berjudul “Brain Volume Linked To Social Networking” oleh Yun Xie, Ars Technica.


Jejaring sosial atau social network telah menjadi topik hangat dalam pembahasan mengenai perkembangan teknologi komunikasi. Lahir dan berkembang dengan setiap keunggulan internet (web 2.0), jejaring sosial tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat saat ini. Coba saja tanyakan siapa yang tidak memiliki akun facebook! Sudah pasti anda mendapatkan response yang sedikit atau bahkan nihil. Hampir semua orang memiliki akun facebook sebab akun ini mampu menghubungankan orang-per-orang; mengintegrasikan hubungan intrapersonal dengan interpersonal.
Persebaran jejaring sosial sangat cepat dan pesat. Ketika seseorang memiliki akun facebook misalnya, ia akan mengundang temannya untuk membuat akun pula. Temannya pun akan mengajak orang-orang di sekitarnya. Mereka saling berhubungan, memantau, dan memperoleh informasi dari jejaring sosial. Hal ini menyebabkan terbentuknya lingkaran-lingkaran sosial, dari yang besar hingga ke ribuan lingkaran-lingkaran kecil di dalamnya.
Jumlah pengguna akun jejaring sosial memang sangat besar, tapi hal tersebut tidak dapat menjelaskan kompleksitas hubungan yang ada. Jejaring sosial bagaikan gunung es, yang terlihat hanya dipermukaannya saja. Namun, didalamnya begitu banyak hubungan yang terjalin, begitu rumit dan begitu bermacam lingkaran sosial yang ada. Hal itu terus berkembang seiring bertambahnya pengguna jejaring sosial tersebut. Terkadang jejaring sosial tidak hanya menghubungkan orang-orang yang sudah kenal saja, tetapi juga membentuk jalinan hubungan-hubungan baru.
Hal ini menariknya dapat diindikasikan oleh otak. Beberapa peneliti terdahulu menemukan fakta bahwa besarnya ukuran amygdala (suatu bagian otak) mengindikasikan seberapa besar dan kompleks jejaring sosial individu tersebut. Studi awal dilakukan pada sekelompok primata, dimana primata dengan jejaring sosial yang lebih kompleks dan besar memiliki ukuran amygdala yang lebih besar pula. Manusia memiliki amygdala paling besar dibandingkan primata manapun yang ada.
Menariknya, ternyata ukuran amygdala pada setiap manusia berbeda. Hal ini antara lain ditentukan oleh facebook atau jejaring sosial lainnya. Semakin banyak dan kompleks jaringan sosial dalam akun-akun jejaring sosial, semakin besar pula amygdala yang dimiliki seseorang tersebut. Orang yang memiliki lingkaran-lingkaran sosial yang lebih bermacam-macam misalnya; ia memiliki banyak friendlist. Ukuran amygdalanya lebih besar dari orang yang lingkaran sosialnya lebih sedikit.
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengukur dua faktor jejaring sosial pada 58 orang dewasa. Pada tahap awal, mereka mengukur besar jaringan partisipan, dimana diindikasikan oleh jumlah total orang yang ada dalam daftar kontak partisipan. Lalu, mereka mengukur kompleksitas jaringan, berdasarkan berapa banyak grup-grup berbeda kontak-kontak dari partisipan itu terbagi. Setelahnya, para peneliti mencari korelasi dua faktor tersebut dengan besarnya amygdala dan hippocampus (keduanya bagian dari otak). Hippocampus merupakan kontrol negatif yang seharusnya tidak berbeda apapun jejaring sosialnya.
Regresi linier lalu mengungkap korelasi yang positif antara besarnya amygdala dengan besar jejaring sosial dan kompleksitasnya. Terdapat sepasang amygdala dalam otak manusia, yaitu amygdala kiri dan kanan. Penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan dari keduanya, dalam artian baik pada amygdala kanan dan kiri berlaku korelasi antara besar dan kompleksitas jejaring sosial terhadap ukuran amydala.  Sebagai tambahan, efeknya secara relatif spesifik dimana faktor-faktor lain, seperti kepuasan terhadap hubungan sosial dan kualitas hubungan, tidak berkorelasi terhadap volume amygdala.
Penelitian ini hanya berlaku pada amygdala saja. Bagian otak lainnya, seperti hippocampus, dan lain-lain, tidak terdapat korelasi besar ukuran dengan besar dan kompleksitas jejaring sosial. Amygdala dapat dibilang merupakan bagian tunggal indikator jejaring sosial pada makhluk hidup; dalam hal ini manusia. Amygdala selalu berkembang dan membesar seiring dengan berkembangnya lingkaran sosial pada kehidupan.
Ternyata teknologi tidak hanya mempengaruhi budaya, sosial, melainkan juga fisik manusia. Facebook atau jejaring sosial lain yang dianggap hanya mempengaruhi hubungan sosial atau kebiasaan manusia ternyata juga mempengaruhi fisik manusia. Mungkin otak manusia ikut menyesuaikan dengan banyaknya informasi hubungan sosial dengan manusia lain. Semakin banyak yang harus diingat, semakin banyak yang harus dijalin, semakin banyak yang harus diperhatikan, semakin besar pula amygdala dalam otak.
          Jejaring sosial terus bertumbuh dan semakin banyak jumlahnya. Seorang individu terkadang tidak hanya memiliki satu atau dua akun jejaring sosial; melainkan banyak. Jaringan pertemanannya pun berbeda di setiap jejaring sosial. Belum lagi kontak pada ponsel atau instant messenger; maupun komunitas-komunitas yang diikuti. Bahkan kini lingkaran sosial yang seseorang, memiliki lingkaran demi lingkaran yang tersegmentasi di dalamnya. Tak terbayangkan seberapa besar amygdala manusia modern. Apalagi yang pada dasarnya memang berjiwa sosial dan suka mencari teman.

          Perkembangan teknologi memang semakin memudahkan kehidupan manusia. Namun, sebenarnya terkadang tercipta pula kompleksitas yang tidak disadari oleh manusia sebagai pengguna teknologi. Fenomena seperti ini sangat menarik untuk diketahui. Hal ini pun merangsang bidang-bidang lain dari kehidupan manusia untuk mengkaji efek yang ditimbulkan oleh teknologi terhadap kehidupan manusia. Salah satunya adalah artikel ini yang mengungkap satu lagi misteri tentang otak manusia dan hubungannya denganfacebook (jejaring sosial).



Sumber:
Xie, Yun dan Technica, Ars. 2010. “Brain Volume Linked To Social Networking”. Wired-magazine:http://www.wired.com/wiredscience/2010/12/social-networking-amygdala/

No one has commented on this article.
Please login or register to post comments.
J! Reactions Commenting Software
General Site License
Copyright © 2006 S. A. DeCaro
Last Updated ( Wednesday, 29 December 2010 )

< PrevNext >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar